Horas to my huta
Teka-teki Ikan
23. Ikan apa yang matanya banyak sekali?
Ikan teri 1 kilo
24. Ikan apa yang paling menderita?
Ikan nggak bisa berenang
25. Ikan apa yang nggak bisa berenang?
Ikan goblok
Teka-teki Kucing
26. Binatang yang paling dibenci anjing laut?
Kucing laut
27. Apa bedanya kucing ama kucring?
Kalo kucing kakinya empat, kalo kucring kakinya emprat
28. Bola apa yang mirip kucing?
Bola emon
Teka-teki Ayam
29. Kenapa ayam kalo berkokok matanya merem?
Karena udah hapal teksnya
30. Ayam apa yang besar?
Ayam semesta
31. Kenapa ayam jago nggak punya tangan?
Sebab ayam betina ngga punya susu
32. Ada ngga ayam yang berkokok siang-siang?
Nggak ada, yang ada berkokok ku… ku… ruyuuuukk.
Teka-teki Telor
33. Barang apa yang lebih berguna setelah pecah? Telur
34. Ada ayam jantan pala’nya ada di amerika ekornya di Afrika, sayapnya di Jakarta, matanya ada di Brazil, telurnya ada di mana?
Ayam jantan mana ada sih yang Bertelor…
35. Ayam apa yang bertelur di mana aja?
Ayam betina
36. Telor apa yang paling enak?
Telor yang lagi gatel trus digaruk-garuk
37. Telor apa yang sangar?
Telor asin, soalnya ada tatonya
38. Telor asin takut ama sapa?
Ama telor puyuh, sebab tatonya lebih banyak
39.Telor puyuh takut ama sapa?
Ama telormu, abis punyamu bawa pistol seeh!
40. Kenapa anak babi kalo jalan nunduk?
Karena malu punya ibu seekor babi
41. Kenapa anak kelinci kalo jalan suka lompat-lompat?
Soalnya dia seneng ibunya bukan babi
42. Apa beda unta dengan kangkung?
Kalo unta di arab, kalo kangkung di
urap
Horas to my huta
TEKA TEKI LUCHU
Bebek dikunci stang
02. Kenapa Bebek goreng enak rasanya?
Karena ada huruf ‘B’ nya, coba kalo nggak ada, berani makan?
03. Ada bebek 10 di kali 2 jadi berapa?
8, soalnya yg 2 lagi maen di kali, kan?
04. Hewan apa yg bersaudara?
Katak beradik
05. Kenapa anak kodok suka loncat-loncat?
Biasalah… namanya juga anak-anak. Suka iseng…
06. Hewan apa yg paling aneh?
Belalang kupu-kupu. Soalnya kalo siang makan nasi kalo malam minum susu
07. Hewan apa yang namanya 2 huruf?
U dan g
08. Apa yang mempunyai kaki enam dan bisa terbang?
Tiga ekor burung!
09. Bagaimana caranya mencegah anjing supaya tidak kencing di jok belakang?
Pindahkan ke jok depan!
10. Punya delapan kaki tapi yang dipakai cuma empat?
Seekor kuda yang sedang ditunggangi dua orang!
11. Siapa yang selalu jadi korban pemerasan?
Sapi perah
12. Bagaimana Membedakan Zebra Jantan Dengan Betina
Zebra Jantan Aslinya Berwarna Hitam Garis – Garisnya Putih, Zebra Betina Aslinya Berwarna Putih Garis – Garis Hitam
13. Kalau dipukul yang mukul malah kesakitan?
Nyamuk yang lagi nempel di hidung!
14. Tikus kalo ulang taon minta hadiah apa?
Sepeda (bodo!! yang ulang taon khan dia… jadi terserah dong…)
15. Gimana caranya tau di dalam kulkas ada tikus?
Liat dulu… di luar kulkas ada sepeda ga?
16. Berapa jumlah kaki seekor kerbau?
Delapan (
17. Hitam, putih, merah, apakah itu?
Zebra abis dikerokin
18. Monyet apa yang rambutnya panjang?
Monyet gondrong
Teka-teki Gajah
19. Binatang apa yang kalau lagi pilek paling menderita?
Gajah (bayangin aja sendiri)
20. Gajah apa yang belalainya pendek?
Gajah pesek
21. Apa persamaannya gajah dan tiang listrik?
Sama-sama nggak bisa terbang
22. Gimana caranya 5 ekor gajah naek sedan?
2 di depan 3 di belakang
Horas to my huta
| "Pemerintah Daerah Punya Hutang Politik Terhadap Masyarakat Adat" |
|
|
|
(Dalam Rangka Peringatan Hari Kebangkitan Masyarakat Adat, 17 Februari 2008)
Pemerintah daerah di Sulawesi Tengah baik pada level propinsi maupun Kabupaten/kota, punya hutang politik yang belum terbayarkan kepada kelompok masyarakat adat. Hutang politik tersebut adalah berupa komitmen kepemerintahan untuk memberikan pengakuan (rekognisi) politik kepada masyarakat adat. Hutang politik tersebut akan terus menerus tidak terbayar, selama belum adanya satupun pengakuan politik dari jajaran pemerintah daerah terhadap keberadaan masyarakat adat (indigenous people/native people).
Masyarakat adat di wilayah ini dapat menuntut hutang politik itu, sebab ada kelalaian tanggungjawab pemerintah (responsible party) yang tidak melaksanakan komitmen normatif dari undang-undang yang mengatur soal pengakuan tersebut. Bahkan, terjadi kesengajaan kelalaian pematuhan konstitusi dasar RI pada UUD 1945 yang juga mengatur soal pengakuan terhadap masyarakat adat. Propinsi Sulawesi Tengah, termasuk wilayah di Indonesia yang melalaikan tanggungjawab pemerintah itu. Hal tersebut bisa dilihat dari riwayat masa lalu Pemprov Sulteng yang pernah mengeluarkan Surat Edaran (SE) Gubernur tahun 1992, tentang pencabutan hak tanah ulayat. Semasa pemerinatahan Gubernur Azis Lamadjido.
Jika dibandingkan dengan daerah lain, misalnya Sulawesi Selatan, daerah itu lebih maju dalam membangun relasi dengan masyarakat adatnya. Mereka mendorong lahirnya Perda tentang Pemerintahan Lembang di Tana Toraja, dan SK Bupati tentang Pengakuan masyarakat Adat Seko di Luwu Utara. Serta Perda tentang Pengakuan Komunitas To Kajang di Bulukumba. Tapi di Sulawesi Tengah, belum ada. Padahal, wilayah Sulteng termasuk daerah di Indonesia yang memiliki jumlah kelompok masyarakat adat yang cukup besar setelah Papua dan NTT. Bahkan, ada kecenderungan pemerintah daerah di level kabupaten di propinsi ini lebih senang mengobral janji. Banyak Pemkab yang bilang " kami mengakui masyarakat adat". Tapi implementasi di lapangan tidak ada yang kelihatan. Belum satupun Pemkab di Sulteng yang punya konsep pengakuan itu terakomodir dalam satu instrumen kebijakannya. Misalnya Perda Kabupaten dan SK Bupati.
Mudah-mudahan, komitmen pemerintah propinsi Sulteng yang berjanji untuk mendorong terus pembahasan Ranperda Tau Taa Wana di DPRD saat ini, menjadi bukti bahwa paradigma lama itu telah berubah. Karena itu, melalui pembahasan Ranperda Tau Taa Wana yang didorong oleh pihak eksekutif, akan menjadi batu ujian bagi komitmen eksekutif dan legislatif di level propinsi, dalam pengakuan masyarakat adat di wilayah ini.
Karena itu, menjelang peringatan hari kebangkitan masyarakat adat di Indonesia tanggal 17 Februari ini, kami mendesak baik Pemprov, maupun Pemkab/Pemkot di daerah ini mau membayar hutang politiknya terhadap
masyarakat adat. Pengakuan itu harus nyata, paling tidak dalam bentuk kebijakan daerah. Karena relasi negara dan masyarakat adat harus dikonstruksikan ke dalam relasi yang adil dan bermartabat, antara negara
sebagai entitas politik untuk tujuan kebaikan bersama, dan masyarakat adat sebagai entitas kewargaan (citizenship).
Demikianlah Siaran Pers ini kami buat. Untuk segera disiarkan.
Palu, 15 Februari 2008.
*Azmi Sirajuddin AR*
*Koord.Advokasi dan Jejaring-YMP
http://www.ymp.or.id/esilo/content/view/208/9/
Horas to my huta
Mangulosi menjadi Mangampolopi
Sebenarnya pentingkah kita lestarikan adat batak itu?. Adat batak mana yang perlu dilestarikan, dijaga dan dilaksanakan dengan sebaiknya?. Terlalu berani mungkin, bila saya mengatakan sudah terjadi pergeseran pelaksanaan adat batak saat ini. Bila ada yang bilang, eme namasak digagat ursa, ia i namasa ima ta ula. Saya harus katakan, itu Ursa/Rusa bodoh yang mau memakan padi yang sudah masak. Ada ucapan keputusasaan yang terkandung di dalamnya. Bila memang penting kita masih bisa dan mau menyelamatkan adat batak itu, maka perumpamaan itu harus dibuang jauh-jauh.Perumpaan kedua yang lazim saya dengar, Ompunta sijolo tubu, martungkot sialagundi, napinungka ni parjolo siihuthonon ni naparpudi, kini dipelesetkan (sengaja?) menjadi sipadimposdimposon, sipadenggan-dengganon ni naparpudi. Kalimat sipadenggan-dengganon ni parpudi ini mengandung makna jamak. Hemat saya, tak ada kata sepakat yang sama-sama diterima semua orang batak yang menyatakan inilah adat yang benar. Karena tidak ada, maka semua saling melaksanakan semua ritual adat batak sesuka hatinya, sesuai selera dan sesuai kondisi keuanganya. Dengan tujuan padengganhon adat na parjolo itu. Seolah, adat batak yang diwariskan leluhur kita itu belum seutuhnya benar, sehingga harus kita benarkan lagi.
Saya menamainya dengan Adat Batak Anggaran Dasar. Pelaksanaan adat batak berdasarkan yang sudah dituliskan di Anggaran Dasar suatu punguan marga. Hematku, bahwa dalam pranata sosial masyarakat batak, tidak dikenal dengan adat marga, adat punguan. Dari jaman dulu, orang batak hanya mengenal yang namanya Adat ni Luat, Adat ni Bius. Kita sering mendengar Adat di Toba, Adat di Humbang, Adat di Rambe, Adat di Samosir. Sekarang ini, setiap marga menjalankan ritual adat batak sesuai dengan kesepakatan pengurus punguan suatu marga. Siapa yang pintar bikin Anggaran Dasar, dan pintar beretorika, maka adat merekalah diikuti.
Padahal, ketika menyusun Anggaran Dasar ini, para pengurus punguan itu dalam keadaan konsdisi setengah mabuk. Anggaran Dasar yang hendak dijadikan patokan pelaksanaan adat itu disusun di Lapo yang kebetulan ada fasilitas ruangan meeting, layar proyektor, dan lain-lain. Lalu, sembari minum bir, dirancanglah tatacara pelaksanaan adat marga mereka. Disepakatilah, hanya sekian ulos untuk diuloshon parboru, tidak boleh lebih. Ulos herbang hanya diberikan keluarga inti, selain itu diampolophon. Besarnya pinggan panungkunan sekian. Begini, begono, begono begini, dan banyak lagi. Lalu diketik rapi pakai komputer, dibagikan pada semua anggota punguan, ditandatangani ketua, sekretaris, penasehat punguan, itulah, buku Anggaran Dasar. Semua pelaksanaan adat harus didasarkan pada buku itu, selain itu salah!.
Hakekatnya, adat berlangsung karena ada holong, kasih, saling mengalah, masipaolo-oloan tanpa ada kata ingkon.
Apa sih makna mangulosi dalam adat batak?. Apakah semata dinilai hanya dengan mengkonversi sehelai ulos dengan mata uang rupiah?. Miris mendengar bila seorang berkomentar bahwa ulos yang diterima di pesta pernikahan, sehari sesudah pesta itu, ulos yang diberikan para sisolhot, horong ni tulang, hula-hula, langsung di jual di Pasar Senen. Bila demikian, maka benarlah apa yang saya amati sekarang ini, bahwa banyak terjadi di pernikahan marunjuk, natoras ni boru bisa meminta supaya borunya tidak di ulosi lagi. Tapi sebagai gantinya, maka di-uangkan saja.
"Diampolopi"
Contoh tren yang sudah mulai dilakukan. Hanya keluarga yang sangat dekat, natoras, iboto, bapauda/tua kandung yang mangulosi, selebihnya diuangkan saja. Bahkan sudah berani meminta ke hula-hulanya dan tulang ni na muli, hanya ulos dari tulanglah yang diuloshon, selain itu diampolopi saja.
Beberapa kali saya menghadiri kejadian yang serupa. Padahal, nama saya sebagai yang turut mengundang ada di lembaran kertas undangan itu, yang artinya saya seharusnya mangulosi. Kejadian lain, nama punguan yang saya ikuti pun ada di kertas undangan yang pengundangnya lebih dari limapuluh keluarga, yang artinya juga adalah sisada ulaon sisada boru. Ketika saya sudah menyiapkan ulos, untuk diberikan kepada iboto/boru itu, maka ada bisik-bisik, permintaan natoras ni boru diuangkan saja. Kedepan, saya tak mau lagi menghadiri acara pamuli boru, pangoli bere, cukup titip ampolop, atau minta nomor rekening, lalu saya transfer. Saya tak melihat adanya kerinduan supaya mempelai, kelurga baru itu diberkati melalui doa-doa yang dipanjatkan dengan perantaraan ulos. Padahal, nilai sehelai ulos yang berikan tidak bisa dinilai dari rupiah. Berpikir, hanya uang yang lebih penting bagi pengantin baru itu daripada sehelai ulos yang diberikan dengan tulus iklas.
Mungkin, besok atau satu hari nanti, doa hula-hula atau tulang tidak penting lagi. Hepenghon ma ito, tulang, ima singkat ni tangiang muna. Uangkan saja tulang, itulah pengganti doa kalian.
Selidik punya selidik, di marga lain pun demikian. Sudah berjemaah menguangkan ulos. Orang tua memberikan contoh yang sangat salah tentang pemahaman budaya batak khususnya mangulosi. Seyogianya, adalah kebanggan tersendiri bila banyak orang yang rela menghabiskan waktunya menunggu saat mangulosi borunya, memberikan untaian doa-doa melalui perantaraan ulos itu. Seharusnyalah merasa bersyukur bila semua hula-hula berbondong mangulosi pengantin.
Kaum muda hanya mengikuti yang sudah ada. Kelak, di pernikahan orang tak ada mangulosi lagi, makan, poco-poco sebentar, menyalam penganting dengan ampolop yang sudah disiapkan, lalu pulang. Akan sama makna mangulosi dengan mangampolopi, mangulosi sama dengan memberikan ulos, dan manghepengi sama dengan memberikan ampolop.
Ai aha do dohonon hata hasasahat ni ampolop on?. Molo hata ni ulos, ulos sitorop rambu, ulos na hapal, ulos na marsimata…molo ampolop?
Nienet sian: sian angka namarragam.
"Tips memberikan kado di bulan cinta"
aLa BULAN CINTA nueang, attar somal do mangalehon kado di tingki on. Alai aha ma huroha kado nadumenggan nanaeng silehononta tu dongan natahaholongi???
Attar adong do 8 kado molo menuruthu on ma narumingkot jala naummarga sian saluhut kado:
1. Hadirion/haroro(kehadiran)
Hadirion ni sahalak jolma i do naummarga, nian boi do hadirionta tapatuduhon marhite SMS, surat, foto, dohot lan naasing do pe tu dongan natahaholongi. Alai molo nunga di lambungna ho, i pe asa boi martungkar pikkiran, marsipadohan roha, rap mekkel tangis huhut boi masigoitan.
2.Marbinege/manangihon (mendengar)
Dang piga halak naboi mangalehon kado nasasada on. Ai gumodangan do jolma naholan hata na sibege-begeon, hape merbinege di hata ni dongan so olo.
Roha naolo marbinege patuduhon holong, patuduhon hasabaron, jala patutoru roha.
Asa gabe jolma nabotul olo marbinege ho, ingkon jumolo do rileks ho, rohahon aha nanidokna, tangihon sude. Dompakhon tu bohina. Dang pola porlu sai sai mangajuk-ajuk, mangkritik, apalagi mandok "ho pe antong nga sala di si...". Loas jo jumolo dipasingkop ibana panghataionna. Dungkon i pe asa mangahatai ho.
Dang na sai ingkon mangalehon poda manang hata sipasingot. Holan mauliate pe didok ho tu donganmi ala nuang olo marsarita tu ho. Nga lumumbang parniahan ni donganmi.
3.Hohom/sip (diam)
Songon hata namandok, "margogo do nahohom"
Hohom boi do dilapati "namuruk do", "namangahumi do", jala jotjot do gabe sungkun-sungkun tu roha ni dongan.
Alai lobi sian i, hohom boi do patuduhon holongta tu sasahalk jolma, gabe talehon tingki nalobi di ibana. Apalagi siganup ari naung hasomalanta marbete-bete, marungut-ungut, mamoda-modai.
4.Lomona (kebebasan)
Manghaholongi sahalk jolma, dang naingkon gabe hita nampunasa di ibana, apalagi sampe mangatur ngoluna. Boi do hita manghaholongi sahalak jolma, molo sai holan marhata ningku? Loas ma lomona. boi do patuduhon holong. Alai dang sampe "Lomom ma hasian". Alai ingkon umbagas sian i do, paloashon lomona huhut bertanggungjawab, patuduhon haporseaonta tu dongan natahaholongi ondeng.
5. Haulion (keindahan)
Ise na so las rohana, molo tompu si haholongan ni rohana tamba ganteng manang tamba santik(uli)...??? Gabe ganteng jala uli, ai pasu-pasu do i. Asing ni haulion ni pahean, boi do tontong dohot haulion di jabu. Dipaias sude angka meja, dipauli vas dohot bunga.
Manang songon nadibahen lampu namanghirdop-hirdop rupani.
6.Patiurhon pikkiran (tanggapan positif)
Jotjot do hita marroha rorang, jotjot hita sai manjoloani di pikkiranta, hape tupa dang toho natapikkirhon i. Olo mandulo-dulo pikkiran ni donganta. Sai hira so adong be nature diulon ibana, jala sai hira pikkiranta do nasintong.
Sahali on, torangi pikkiranmu. Dokkon sian ias ni roham, Ingot ma nasaminggu on, piga hali ma ho mandok mauliate ala pambahenanna. Ingot muse piga hali do dipuji ho ibana. Ai rayuan pe sasahali mansai ringkot do dipardonganon. Ingot muse, hea do hata mullop sian pamanganmu mandok "sala ma ahu di si".
Sai jumolo ma patiur roham, unang sai olo manduga-duga na so toho.
Sian i pe tarida do holongmu di namardongan i.
7.Roha naolo talu (kesediaan mengalah)
Dang sai sude masalah ingkon gabe bada. apalagi muse ma gabe bada bolak. :)
Molo dipikkirhon ho do on. Mangarade ma ho managalehon kado "roha naolo talu".
Ai roha naolo talu panemnem ate-ate namarsigorgor. Jala ingot ma dang adong jolma na sai ture manang denggan saleleng ni ngoluna.
8.Engkel suping (senyuman)
Porsea manang dang. Mansai margogo engkel suping. Sang muse ma engkel suping i sian roha nasasintongna. Boi do pature angka roha nageduk, patiurhon roha haholomon. Jala somalna di ende i pe di dok do "engkel suping mi, pasonang rohakki".
Engkel suping pe patuduhon roha pardongan, roha parholong.
Nandigan parpudi ho mengkel suping tahe?
Horas ma di hita saluhutna.
Label: Horas to my huta
Horas to my huta
Why GOD Gave Us Friends
GOD knew that everyone needs
Companionship and cheer,
He knew that people need someone
Whose thoughts are always near.
He knew they need someone kind
To lend a helping hand.
Someone to gladly take the time
To care and understand.
GOD knew that we all need someone
To share each happy day,
To be a source of courage
When troubles come our way.
Someone to be true to us,
Whether near or far apart.
Someone whose love we'll always
Hold and treasure in our hearts.
That's Why GOD Gave Us Friends!
Why God Made Friends
God made the world with a heart full of love,
Then He looked down from Heaven above,
And saw that we all need a helping hand,
Someone to share with, who'll understand.
He made special people to see us through
The glad times and the sad times, too;
A person on whom we can always depend,
Someone we can call a friend.
God made friends so we'll carry a part
Of His perfect love in all our hearts.
Simple vs Real
Anyone can stand by you when you are right, but a Friend will
stand by you even when you are wrong...
A simple friend identifies himself when he calls. A real friend doesn't have to.
A simple friend opens a conversation with a full news bulletin on his life.
A real friend says, "What's new with you?"
A simple friend thinks the problems you whine about are recent.
A real friend says, "You've been whining about the same thing for 14 years. Get off your duff and do something about it."
A simple friend has never seen you cry. A real friend has shoulders soggy from your tears.
A simple friend doesn't know your parents' first names. A real friend has their phone numbers in his address book.
A simple friend hates it when you call after he has gone to bed.
A real friend asks you why you took so long to call.
A simple friend seeks to talk with you about your problems. A
real friend seeks to help you with your problems.
A simple friend, when visiting, acts like a guest. A real friend opens your refrigerator and helps himself.
A simple friend thinks the friendship is over when you have an argument.
A real friend knows that it's not a friendship until after you've had a fight.
A simple friend expects you to always be there for them. A real friend expects to always be there for you!
Holong ma tabahen mangalap holong...
Horas jala gabe...!!!
Label: Horas to my huta
